Selasa, 17 Maret 2009

Bakat itu Pensil

Kalau manusia ciptaan Tuhan itu dikatakan segambar dengan diriNya dan telah sempurna adanya, mampukah kita lebih menyempurnakannya lagi ? Maksud kalimat ini adalah biarlah manusia bisa mensyukuri atas apa yang telah diciptakan Tuhan atas dirinya, meskipun tanpa disadari manusia selalu saja lebih merasa kurang ini kurang itu, kalimat yang Spiritualis ya . . .
Karena telah sempurna (di mata Tuhan adalah telah "baik" adanya), maka sebenarnya manusia mestinya sudah mempunyai kelebihan dari sononya (baca : Bakat)

Kalimat lainnya adalah bahwa segala pengalaman hidup kita ini sebenarnya juga sekaligus Uji Bakat, pengalaman kita yang membuahkan Ketertarikan akan suatu hal, Mendalaminya dan kemudian Berhasil dalam hal tersebut, lalu orang akan bilang "wah . . kamu berbakat"

Saya lebih suka menganalogikan Bakat seperti sebuah Pensil (Alat Tulis)
Betapapun kita tahu itu adalah sebuah Pensil, namun bisakah itu menjadi Alat Tulis tanpa kita mengasahnya terlebih dahulu menjadi runcing ujungnya hingga isi pensil yang hitam itu muncul ? Kita selalu tahu bahwa didalam pensil itu telah ada Isi Pensil (Bahan Karbon berwarna hitam) yang membuatnya bisa untuk menulis (baca : Bakat Telah Ada) dan semestinya kita juga tahu bahwa bakat sudah ada dalam diri manusia, tak heran ada yang bilang "wah bakat terpendam ya ?", bukankah Karbon Hitam itu juga memang tadinya selalu terpendam di dalam Pensil ?
Nah . . tugas kita sekarang adalah mengasah dan mengeluarkan Bakat kita, ibarat mengasah dan mengeluarkan Karbon Hitam Isi Pensil itu tadi (baca : Mengasah Bakat)

Bagaimana menurut Anda ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar