Bila menyalurkan bakat adalah suatu upaya yang berhubungan dengan faktor diluar diri orang tersebut (Eksternal Activity), maka mengasah bakat adalah suatu upaya ke dalam diri orang tersebut (Internal Activity)
Ungkapan ini sebenarnya hanya bentuk penajaman dari ungkapan2 lain yang telah dibahas pada tulisan yang lalu seperti menyadari bakat, menggali sumur bakat, menumbuhkan bakat dan lainnya
Mengasah untuk menajamkan dan meruncingkan Bakat itu adalah sangat penting
Masih ingat Bakat itu Pensil ?, mengasah berarti kita hendak menajamkan sesuatu agar setelah tajam bisa dengan mudah dipergunakan untuk memotong, menyayat dan mengiris
Mungkin juga tidak hanya membuatnya tajam tapi juga membuatnya runcing, agar setelah runcing bisa dengan mudah dipergunakan untuk melubangi, menusuk dan menikam
Perhatikan kata "dengan mudah" pada kalimat2 di atas tadi, ternyata "dengan mudah" adalah hasil daripada mengasah tadi, atau dengan kata lain bila tidak diasah pastilah tidak mudah atau sulit bila nanti akan dipergunakan
Betapa pentingnya hal mengasah ini, betapa pentingnya membuatnya tajam dan runcing agar bisa kelak mudah dipergunakan tanpa menemui banyak kendala/kesulitan
Sekarang bagaimana caranya kita Mengasah Bakat ? jawabannya sederhana saja yaitu dekat2lah senantiasa dengan obyek Bakat itu, misalnya Bakat Musik, maka dengarlah musik sesering mungkin, lihatlah orang bermain musik sesering mungkin dan resapilah makin mendalam secara terus menerus
Perhatikan kata "sesering mungkin" dan "terus menerus" , karena inilah juga cara orang mengasah, makin lama diasah makin tajam, makin runcing, makin berkilau, makin cemerlang
Pisau yang dibiarkan saja tidak diasah bukan hanya akan tumpul dan tidak tajam tapi juga akan kotor dan mudah berkarat, tapi Pisau yang Tajam dan Runcing karena sering diasah sudah barang tentu Tidak Berkarat
Apakah Anda tidak mempercayainya ?
Selasa, 31 Maret 2009
Selasa, 24 Maret 2009
Menyalurkan Bakat Memetik Manfaat
Menyalurkan Bakat adalah memberi jalan kepada hal yang disukainya untuk bisa makin berkembang dan memberinya banyak manfaat/hasil
Seperti halnya menyalurkan bakat menyanyi agar kelak bisa jadi Penyanyi, menyalurkan bakat bermusik agar kelak bisa berprofesi sebagai Pemusik dan yang lainnya
Namun ada juga kita dengar orang2 sering mengatakan ". . saya hanya suka/senang mendengarkan musik saja tapi tidak bakat bermain musik . ." " saya memang suka sekali makanan tapi tidak bakat masak memasak . . " dan yang lainnya
Adakah orang yang berbakat musik tidak senang mendengarkan musik ? pernahkah ada Juru Masak itu bukan orang yang menggemari masakan ?
Saya ingin mengatakan bahwa orang2 ini sebenarnya belum mengetahui arti Bakat itu sesungguhnya, sehingga mereka mengartikannya secara salah
Ungkapan seperti ini kalau keterusan hanya akan merugikan mereka sendiri, karena secara tidak langsung akan membunuh benih bakat yang sebenarnya telah ada pada diri orang tersebut
Kata orang bijak "Janganlah memberi batasan pada diri sendiri, kecuali kita memang tidak ingin berkembang, namun bersikaplah seperti Gentong yang terbuka tutupnya dan siap menerima air hujan yang akan segera memenuhinya"
Bakat memang selalu berawal dari rasa suka/senang (ketertarikan) akan sesuatu hal yang kemudian dikembangkan, atau dengan kata lain bakat adalah obsesi pengembangan rasa ketertarikan tersebut
Jadi apabila rasa suka, rasa senang, rasa gemar, rasa asyik atau apa lagi itu sudah disadari dan kemudian terobsesi untuk mau mengembangkannya, niscaya nanti akan berbuah yang namanya Bakat
Merasalah berbakat karena Anda telah benar2 menyukainya dan apabila Anda telah merasa berbakat, maka mulailah menyalurkan bakat tersebut guna memetik manfaatnya
Kapan Anda akan memulainya ?
Seperti halnya menyalurkan bakat menyanyi agar kelak bisa jadi Penyanyi, menyalurkan bakat bermusik agar kelak bisa berprofesi sebagai Pemusik dan yang lainnya
Namun ada juga kita dengar orang2 sering mengatakan ". . saya hanya suka/senang mendengarkan musik saja tapi tidak bakat bermain musik . ." " saya memang suka sekali makanan tapi tidak bakat masak memasak . . " dan yang lainnya
Adakah orang yang berbakat musik tidak senang mendengarkan musik ? pernahkah ada Juru Masak itu bukan orang yang menggemari masakan ?
Saya ingin mengatakan bahwa orang2 ini sebenarnya belum mengetahui arti Bakat itu sesungguhnya, sehingga mereka mengartikannya secara salah
Ungkapan seperti ini kalau keterusan hanya akan merugikan mereka sendiri, karena secara tidak langsung akan membunuh benih bakat yang sebenarnya telah ada pada diri orang tersebut
Kata orang bijak "Janganlah memberi batasan pada diri sendiri, kecuali kita memang tidak ingin berkembang, namun bersikaplah seperti Gentong yang terbuka tutupnya dan siap menerima air hujan yang akan segera memenuhinya"
Bakat memang selalu berawal dari rasa suka/senang (ketertarikan) akan sesuatu hal yang kemudian dikembangkan, atau dengan kata lain bakat adalah obsesi pengembangan rasa ketertarikan tersebut
Jadi apabila rasa suka, rasa senang, rasa gemar, rasa asyik atau apa lagi itu sudah disadari dan kemudian terobsesi untuk mau mengembangkannya, niscaya nanti akan berbuah yang namanya Bakat
Merasalah berbakat karena Anda telah benar2 menyukainya dan apabila Anda telah merasa berbakat, maka mulailah menyalurkan bakat tersebut guna memetik manfaatnya
Kapan Anda akan memulainya ?
Sabtu, 21 Maret 2009
Menggali Sumur Bakat
Pernahkah membayangkan sulitnya menggali tanah untuk sebuah sumur ? apalagi di daerah tandus yang tanahnya bebatuan atau di padang gurun pasir sana ?
Memang tidak ada yang benar2 mudah menggali sebuah sumur, namun sampai hari ini orang terus melakukan upaya upaya tersebut, apalagi yang mau digali adalah sebuah sumur minyak, sumur emas . . atau sumur apa lagi ?
Menggali adalah sebuah upaya mengambil ke dalam dan kita tidak tahu persis seberapa dalam nanti kita harus terus menggali untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi target tujuan kita
Jadi mestinya janganlah berhenti menggali sebelum kita menemukan hasilnya . . .aahhh . . . menggali memang susahhhh . . .
Bagaimana kalau yang digali itu adalah Sumur Bakat ?
Dikatakan bahwa ada bakat dalam diri setiap orang (Tuhan sudah anugerahkan Talenta itu dalam setiap orang, ber-macam2 bentuknya) dan sekarang kita harus menggalinya untuk benar2 mendapatkannya, untuk benar2 bisa memanfaatkannya
Sudah barang tentu juga sama susahnya atau bahkan mungkin lebih susah ketimbang menggali sumur air, tapi kalau mau berhasil . . kita harus tahu caranya dan janganlah berhenti menggali sebelum berhasil menemukan bakatnya
Bakat itu ada di dalam sana, seberapa kecil . . seberapa besar . . yang pasti bakat itu ada
Menggali Sumur Bakat bukanlah sebuah kiasan atau se-akan2 saja dan Caranya adalah dengan menumbuh-kembangkan rasa ketertarikan kita akan suatu aktifitas (misal Menyanyi atau Bermusik), melakukannya terus menerus, mencoba memanfaatkannya dan menjadikannya seperti sebuah profesi
Mendapatkan Air bukanlah tujuan akhir kita menggali sumur air, namun bisa mandi, mencuci dan melenyapkan kehausan . . . adalah tujuan dari mendapatkan air
Minyakpun bukan tujuan akhir kita menggali sumur minyak dan akan tidak berarti apa2 bila minyak itu tidak bisa menjadi bahan bakar untuk menjalankan mobil kita misalnya
Jadi menggali dan menemukan bakatpun tidak akan berarti apa2, tanpa menyalurkan bakat tersebut menjadi sebuah kepintaran atau bahkan keahlian atau bahkan keprofesionalan untuk mendatangkan kebaikan/kemanfaatan buat kita dan orang lain
Bagaimana menurut Anda ?
Memang tidak ada yang benar2 mudah menggali sebuah sumur, namun sampai hari ini orang terus melakukan upaya upaya tersebut, apalagi yang mau digali adalah sebuah sumur minyak, sumur emas . . atau sumur apa lagi ?
Menggali adalah sebuah upaya mengambil ke dalam dan kita tidak tahu persis seberapa dalam nanti kita harus terus menggali untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi target tujuan kita
Jadi mestinya janganlah berhenti menggali sebelum kita menemukan hasilnya . . .aahhh . . . menggali memang susahhhh . . .
Bagaimana kalau yang digali itu adalah Sumur Bakat ?
Dikatakan bahwa ada bakat dalam diri setiap orang (Tuhan sudah anugerahkan Talenta itu dalam setiap orang, ber-macam2 bentuknya) dan sekarang kita harus menggalinya untuk benar2 mendapatkannya, untuk benar2 bisa memanfaatkannya
Sudah barang tentu juga sama susahnya atau bahkan mungkin lebih susah ketimbang menggali sumur air, tapi kalau mau berhasil . . kita harus tahu caranya dan janganlah berhenti menggali sebelum berhasil menemukan bakatnya
Bakat itu ada di dalam sana, seberapa kecil . . seberapa besar . . yang pasti bakat itu ada
Menggali Sumur Bakat bukanlah sebuah kiasan atau se-akan2 saja dan Caranya adalah dengan menumbuh-kembangkan rasa ketertarikan kita akan suatu aktifitas (misal Menyanyi atau Bermusik), melakukannya terus menerus, mencoba memanfaatkannya dan menjadikannya seperti sebuah profesi
Mendapatkan Air bukanlah tujuan akhir kita menggali sumur air, namun bisa mandi, mencuci dan melenyapkan kehausan . . . adalah tujuan dari mendapatkan air
Minyakpun bukan tujuan akhir kita menggali sumur minyak dan akan tidak berarti apa2 bila minyak itu tidak bisa menjadi bahan bakar untuk menjalankan mobil kita misalnya
Jadi menggali dan menemukan bakatpun tidak akan berarti apa2, tanpa menyalurkan bakat tersebut menjadi sebuah kepintaran atau bahkan keahlian atau bahkan keprofesionalan untuk mendatangkan kebaikan/kemanfaatan buat kita dan orang lain
Bagaimana menurut Anda ?
Jumat, 20 Maret 2009
Bakat itu Potensi
Apakah Orang bisa Berbicara itu karena dia punya mulut ? Apakah Orang bisa Berlari itu karena dia punya kaki ? he he he . . .
Biasanya begitu jawabnya, tapi yang tidak biasa dan lebih kritis pemikirannya tentu akan berkata bahwa Sebab Akibat adalah sesuatu yang lebih kompleks, misalnya Orang itu bisa Berbicara karena dia ada di DPR (sebagai Wakil Rakyat) atau Orang itu bisa berlari karena dia punya kekuatan/tenaga . . . bukan orang yang lumpuh dan tidak sedang Stroke dan tidak sedang dirantai kakinya dan . . lain-lain
Saya lebih ingin mencermati Sebab Akibat soal berlari ini, ya . . sebab yang dikatakan sebagai Kekuatan atau Tenaga ini rasanya cukup paling ujung bagi saya
Kalau orang tidak punya Tenaga ya . .obah wae susah (bergerak saja sulit), jadi semua harus ada Tenaganya, bahkan hanya punya Mau saja juga tidak bisa kalau tidak punya Tenaga atau lebih lengkap kita sebut Potensi (Potential)
Semua setuju bahwa Bakat itu adalah Potensi
Jadi orang memang harus memiliki Bakat atau Potensi untuk dia bisa mengerjakan sesuatu hal yang spesifik dengan hasil yang lebih baik atau sangat baik ketimbang orang lain yang tidak berBakat/berPotensi dan saya selalu katakan kalau Bakat atau Potensi bisa kita ciptakan
Bakat atau Potensi adalah sesuatu yang bisa diadakan dan ditumbuhkan, sama halnya dengan orang yang melatih kekuatannya untuk tidak hanya bisa berdiri tapi juga berlari . . , untuk tidak hanya bisa berlari tapi juga meloncat . . dan lain-lain
Baaimana menurut Anda ?
Biasanya begitu jawabnya, tapi yang tidak biasa dan lebih kritis pemikirannya tentu akan berkata bahwa Sebab Akibat adalah sesuatu yang lebih kompleks, misalnya Orang itu bisa Berbicara karena dia ada di DPR (sebagai Wakil Rakyat) atau Orang itu bisa berlari karena dia punya kekuatan/tenaga . . . bukan orang yang lumpuh dan tidak sedang Stroke dan tidak sedang dirantai kakinya dan . . lain-lain
Saya lebih ingin mencermati Sebab Akibat soal berlari ini, ya . . sebab yang dikatakan sebagai Kekuatan atau Tenaga ini rasanya cukup paling ujung bagi saya
Kalau orang tidak punya Tenaga ya . .obah wae susah (bergerak saja sulit), jadi semua harus ada Tenaganya, bahkan hanya punya Mau saja juga tidak bisa kalau tidak punya Tenaga atau lebih lengkap kita sebut Potensi (Potential)
Semua setuju bahwa Bakat itu adalah Potensi
Jadi orang memang harus memiliki Bakat atau Potensi untuk dia bisa mengerjakan sesuatu hal yang spesifik dengan hasil yang lebih baik atau sangat baik ketimbang orang lain yang tidak berBakat/berPotensi dan saya selalu katakan kalau Bakat atau Potensi bisa kita ciptakan
Bakat atau Potensi adalah sesuatu yang bisa diadakan dan ditumbuhkan, sama halnya dengan orang yang melatih kekuatannya untuk tidak hanya bisa berdiri tapi juga berlari . . , untuk tidak hanya bisa berlari tapi juga meloncat . . dan lain-lain
Baaimana menurut Anda ?
Kamis, 19 Maret 2009
Bakat Kecil. Bakat Sedang, Bakat Besar
Kata Bakat Besar yang paling sering kita dengar dari siapapun dan dari manapun, hanya sekedar mengartikan bahwa seseorang dinilai mempunyai Kepekaan akan Kebisaan/Kemampuan yang tinggi dalam hal tertentu jauh lebih tinggi ketimbang orang2 pada umumnya
Misalnya bila dikatakan bahwa orang ini mempunyai Bakat Besar dalam hal Musik, maka itu pastilah karena dia mampu dengan sangat cepat dan memiliki antusiasme dalam mengembangkan kreatifitas bermusiknya dengan sangat baik
Yang lain mengatakan bahwa orang ini mampu bermain musik dengan hasil jauh lebih baik ketimbang orang lain yang pada waktu yang sama dulu juga mempelajarinya
Yang lain lagi mengatakan bahwa orang yang berbakat besar pada umumnya cepat sekali mencerna hal yang sedang dipelajarinya
Bagaimana dengan Bakat Kecil atau Bakat yang Sedang2 saja ? Mungkinkah ini hanya upaya memperhalus kata Tidak Berbakat atau sekedar memperindah kata Goblok & Lambat ?
Saya setuju bila Bakat Kecil, Bakat Sedang ataupun Bakat Besar itu semuanya adalah Bakat dan saya kurang setuju kalau ada yang menyebut Tidak Berbakat, tapi saya lebih setuju bila kita tidak larut mempersoalkan perkara Bakat dan sangat setuju mengatakan bahwa Bakat itu bisa dimunculkan, ditumbuhkan, dimekarkan dari kecil menjadi besar
Bagaimana menurut Anda ?
Misalnya bila dikatakan bahwa orang ini mempunyai Bakat Besar dalam hal Musik, maka itu pastilah karena dia mampu dengan sangat cepat dan memiliki antusiasme dalam mengembangkan kreatifitas bermusiknya dengan sangat baik
Yang lain mengatakan bahwa orang ini mampu bermain musik dengan hasil jauh lebih baik ketimbang orang lain yang pada waktu yang sama dulu juga mempelajarinya
Yang lain lagi mengatakan bahwa orang yang berbakat besar pada umumnya cepat sekali mencerna hal yang sedang dipelajarinya
Bagaimana dengan Bakat Kecil atau Bakat yang Sedang2 saja ? Mungkinkah ini hanya upaya memperhalus kata Tidak Berbakat atau sekedar memperindah kata Goblok & Lambat ?
Saya setuju bila Bakat Kecil, Bakat Sedang ataupun Bakat Besar itu semuanya adalah Bakat dan saya kurang setuju kalau ada yang menyebut Tidak Berbakat, tapi saya lebih setuju bila kita tidak larut mempersoalkan perkara Bakat dan sangat setuju mengatakan bahwa Bakat itu bisa dimunculkan, ditumbuhkan, dimekarkan dari kecil menjadi besar
Bagaimana menurut Anda ?
Selasa, 17 Maret 2009
Bakat itu Pensil
Kalau manusia ciptaan Tuhan itu dikatakan segambar dengan diriNya dan telah sempurna adanya, mampukah kita lebih menyempurnakannya lagi ? Maksud kalimat ini adalah biarlah manusia bisa mensyukuri atas apa yang telah diciptakan Tuhan atas dirinya, meskipun tanpa disadari manusia selalu saja lebih merasa kurang ini kurang itu, kalimat yang Spiritualis ya . . .
Karena telah sempurna (di mata Tuhan adalah telah "baik" adanya), maka sebenarnya manusia mestinya sudah mempunyai kelebihan dari sononya (baca : Bakat)
Kalimat lainnya adalah bahwa segala pengalaman hidup kita ini sebenarnya juga sekaligus Uji Bakat, pengalaman kita yang membuahkan Ketertarikan akan suatu hal, Mendalaminya dan kemudian Berhasil dalam hal tersebut, lalu orang akan bilang "wah . . kamu berbakat"
Saya lebih suka menganalogikan Bakat seperti sebuah Pensil (Alat Tulis)
Betapapun kita tahu itu adalah sebuah Pensil, namun bisakah itu menjadi Alat Tulis tanpa kita mengasahnya terlebih dahulu menjadi runcing ujungnya hingga isi pensil yang hitam itu muncul ? Kita selalu tahu bahwa didalam pensil itu telah ada Isi Pensil (Bahan Karbon berwarna hitam) yang membuatnya bisa untuk menulis (baca : Bakat Telah Ada) dan semestinya kita juga tahu bahwa bakat sudah ada dalam diri manusia, tak heran ada yang bilang "wah bakat terpendam ya ?", bukankah Karbon Hitam itu juga memang tadinya selalu terpendam di dalam Pensil ?
Nah . . tugas kita sekarang adalah mengasah dan mengeluarkan Bakat kita, ibarat mengasah dan mengeluarkan Karbon Hitam Isi Pensil itu tadi (baca : Mengasah Bakat)
Bagaimana menurut Anda ?
Karena telah sempurna (di mata Tuhan adalah telah "baik" adanya), maka sebenarnya manusia mestinya sudah mempunyai kelebihan dari sononya (baca : Bakat)
Kalimat lainnya adalah bahwa segala pengalaman hidup kita ini sebenarnya juga sekaligus Uji Bakat, pengalaman kita yang membuahkan Ketertarikan akan suatu hal, Mendalaminya dan kemudian Berhasil dalam hal tersebut, lalu orang akan bilang "wah . . kamu berbakat"
Saya lebih suka menganalogikan Bakat seperti sebuah Pensil (Alat Tulis)
Betapapun kita tahu itu adalah sebuah Pensil, namun bisakah itu menjadi Alat Tulis tanpa kita mengasahnya terlebih dahulu menjadi runcing ujungnya hingga isi pensil yang hitam itu muncul ? Kita selalu tahu bahwa didalam pensil itu telah ada Isi Pensil (Bahan Karbon berwarna hitam) yang membuatnya bisa untuk menulis (baca : Bakat Telah Ada) dan semestinya kita juga tahu bahwa bakat sudah ada dalam diri manusia, tak heran ada yang bilang "wah bakat terpendam ya ?", bukankah Karbon Hitam itu juga memang tadinya selalu terpendam di dalam Pensil ?
Nah . . tugas kita sekarang adalah mengasah dan mengeluarkan Bakat kita, ibarat mengasah dan mengeluarkan Karbon Hitam Isi Pensil itu tadi (baca : Mengasah Bakat)
Bagaimana menurut Anda ?
Senin, 16 Maret 2009
Talenta artinya Bakat
Konon kata orang Bakat itu sebuah Kondisi dari seseorang yang punya Kelebihan Kebisaan tertentu akan sebuah hal, secara spesifik melebihi orang lain pada umumnya, jadi orang disebut berbakat bila ternyata orang tersebut lebih mampu, lebih cepat atau lebih baik ketimbang orang lain yang melakukan, sekali lagi dalam hal spesifik tentunya
Saya melihat perbedaanya hanya di hal "lebih" saja, jadi orang yang lain mestinya juga bisa (kurang dari lebih atau hanya pas), jadi menurut saya hanya beda beda tipis saja antara orang yang disebut Berbakat dan yang Tidak Berbakat, tapi setipis apa ya .... ?
Sepertinya tidaklah perlu kita hiraukan beda2 tipis ini, atau anggap saja semua berbakat atau semua tidak berbakat saja, anggap berbakat itu bisa kita kondisikan, anggap berbakat itu bisa kita jadikan, bukankah Ciptaan Tuhan itu sudah sempurna adanya ?
Bagaimana menurut Anda ?
Saya melihat perbedaanya hanya di hal "lebih" saja, jadi orang yang lain mestinya juga bisa (kurang dari lebih atau hanya pas), jadi menurut saya hanya beda beda tipis saja antara orang yang disebut Berbakat dan yang Tidak Berbakat, tapi setipis apa ya .... ?
Sepertinya tidaklah perlu kita hiraukan beda2 tipis ini, atau anggap saja semua berbakat atau semua tidak berbakat saja, anggap berbakat itu bisa kita kondisikan, anggap berbakat itu bisa kita jadikan, bukankah Ciptaan Tuhan itu sudah sempurna adanya ?
Bagaimana menurut Anda ?
Sabtu, 14 Maret 2009
pitaQreuz

Pipa artinya sebuah Alat yang digunakan untuk mengalirkan/menyalurkan sesuatu
Talenta berasal dari kata Talent (Bahasa Inggris) yang artinya Bakat
Qreativ diubah dari kata asal Kreatif yang artinya Aktif Berkarya menghasilkan sesuatu
Seriuz atau Serius adalah berarti Kesungguhan Tekad menjadi Profesional
Secara lengkap Pipa Talenta Qreativ Seriuz adalah sebuah Studio Olah Bakat yang mendidik siapa saja menjadi seorang Profesional di bidang Talenta Seni yang berkaitan dengan Produksi Musik, Penyanyi Panggung & Rekaman, Presenter Televisi, Penyiar Radio, Model Iklan & Video Klip, Semua yang berkenaan dengan Suara & Gambar
Talenta berasal dari kata Talent (Bahasa Inggris) yang artinya Bakat
Qreativ diubah dari kata asal Kreatif yang artinya Aktif Berkarya menghasilkan sesuatu
Seriuz atau Serius adalah berarti Kesungguhan Tekad menjadi Profesional
Secara lengkap Pipa Talenta Qreativ Seriuz adalah sebuah Studio Olah Bakat yang mendidik siapa saja menjadi seorang Profesional di bidang Talenta Seni yang berkaitan dengan Produksi Musik, Penyanyi Panggung & Rekaman, Presenter Televisi, Penyiar Radio, Model Iklan & Video Klip, Semua yang berkenaan dengan Suara & Gambar
Langganan:
Komentar (Atom)
